Disclaimer :
- Postingan ini tidak ingin menyinggung sapa pun.
- Maaf kalo postingan ini akhirnya dianggap seolah menggurui. Sebenarnya tidak ada maksud hati untuk berlaku demikian.
- Silahkan siapkan tissue dan hati anda jika anda termasuk orang yang sensitif dan sedang menghadapi masalah yang sama.

Putus cinta bukan hal yang mengenakkan. Karena kadang suka bikin kita enggak enak tidur, enggak enak makan. Makanya, sebelum ambil keputusan untuk ’putus’, dipikirkan dulu dan ditimbang lagi. Tapi, kalau memang harus ’putus’, ya sudah!
Yang satu pergi, yang berikutnya pasti datang!![]()
Lalu, apakah ada rumus khusus untuk memutuskan apakah kita masih akan lanjut dengan si dia atau kita harus ’putus’?.
Rumus khusus sebenarnya tidak ada. Keputusan untuk mengakhiri suatu hubungan terkait pada faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor dari pasangan yang menjalin hubungan tersebut menyangkut masalah persepsi, prinsip, dan komitmen. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor di luar pasangan, misalnya faktor keluarga yang tidak setuju.Tentu saja ada pembedaan pertimbangan ketika harus memutuskan hubungan sesuai dengan jenis masalahnya masing-masing.
Jika permasalahan yang timbul adalah masalah internal, langkah paling diperlukan adalah jujur pada diri sendiri mengenai hubungan pacaran yang sudah berjalan. Kalau kesalahan yang dilakukan pasangan kita memang tidak dapat dimaafkan untuk versi banyak orang, cobalah untuk menilai kesalahan pasangan kita dalam versi diri kita sendiri. Dalam artian, standar yang kita miliki tentu saja berbeda dengan standar orang lain. Yang paling penting adalah introspeksi.![]()
Mencoba mempertimbangkan apakah kita punya andil dalam kesalahan yang dia lakukan. Kunci untuk langkah pertama ini adalah jujur pada diri sendiri. Mencoba mengikuti kata hati memang tidak ada salahnya. Tapi, akan lebih mudah lagi apabila diseimbangkan dengan jujur pada diri sendiri.
Adanya penolakan.
Salah satu reaksi yang mungkin sekali timbul ketika harus ’putus’ adalah penolakan terhadap kejadian ini.
Perasaan bahwa sudah berbuat yang paling baik selama membina hubungan terkadang menghambat untuk berpikir obyektif mengenai sebab musabab terjadinya hal tersebut.
Penolakan adalah satu reaksi yang normal bagi siapa pun yang berada di ambang ’putus’. Kalau ternyata kita memiliki andil dalam kesalahannya, berarti kita memiliki alternatif sejauh mana dapat excuse dengan kesalahan yang dia lakukan.
Kejujuran pada diri sendiri sangat diperlukan ketika proses introspeksi dilakukan.
Nah, kalau ternyata memang kita beranggapan bahwa tidak dapat memaafkannya, sering kali kita masih juga bimbang untuk memutuskan apakah hubungan harus terus dilanjutkan atau tidak.
Ini pun karena pertimbangan bagaimana menjawab pertanyaan orang lain mengenai hubungan kita, atau bahkan sampai pada pertimbangan sulitnya menjadi single fighter. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang terkadang menjadikan kita ragu untuk mengambil keputusan.
So… harus bagaimana dong?.
Yang jelas, kita tidak diwajibkan untuk meneruskan satu hubungan bila tidak lagi merasa nyaman dengan hubungan tersebut. Kecenderungan takut menjadi single fighter dan bagaimana cara menghadapi orang lain yang bertanya-tanya tentang hubungan kita memang mengganggu. Tapi, akan lebih mengganggu lagi kalau kita mempertahankan hubungan tersebut. Karena, pasti yang timbul adalah ketidaknyamanan.
Lalu, kalau sudah begini, mana yang akan kita pertahankan?
Kembali lagi kejujuran dari diri sendiri yang ditekankan. Putus hubungan dengan pasangan kita ternyata bukan akhir dari segalanya. Seperti juga bus kota, ketika yang satu pergi, yang lainnya akan datang
.
.:. Buat Seorang Perempuan Tangguh .::.
“Tiada cara yang paling mujarab untuk menghilangkan cinta dan kenangan mengenai cinta melainkan dengan menggantikan cinta yang penuh racun dan luka dengan cinta bahagia dan kenangan baru yang mengembirakan.
Cinta ialah perasaan dan ibarat obat yang diminum oleh hati dan jiwa maka,apabila cinta itu merusakkan dan menderitakan maka berhenti, obat itu ialah racun yang meluka.
Maka tentunya cara yang paling sesuai merawati sakit akibat cinta ini ialah dengan memberi obat baru yang lebih kuat dari obat lama.”
sebelum lupa… saya juga mo ngucapin :
Gong Xi Fa Cai
Selamat dan Semoga banyak Rejeki.
![]()
ditunggu kiriman angpaonya.
February 6, 2008 at 1:09 pm
8-} 8-} 8-} 8-} 8-} 8-}
February 6, 2008 at 1:18 pm
wah jadi konsultan percintaan nih
February 6, 2008 at 1:20 pm
putus cinta…
berjuta rasanya…
*ditabok*
_________________
yupe, jadikan kenangan, dan biarkan hati tetap terbuka…
btw, saya udah buka lebar-lebar tapi kok ya…. :>
February 6, 2008 at 1:25 pm
pengalaman pertaman patah hati muncul jerawat sebesar bisul di kening dan sehari pindah-pindah tempat
tapi untungnya cuman berbekas diingatan bukan di kening
February 6, 2008 at 1:50 pm
cinta oh cinta..
ceritanya sama sepanjang masa..
February 6, 2008 at 2:28 pm
aduh.. aduh adiku ini ternyata udah mulai jadi pakar cinta rupanya. 8-l .. ya sip lah bisa buka biro konsul cinta nih.. suksek terus na..
February 6, 2008 at 2:31 pm
ah, ya sudah, pasti ada yg jauh lbh baik dr dia..
tp memang kadang butuh waktu untuk ikhlas melepas orang yg telah mengisi hari2..
February 6, 2008 at 3:01 pm
yang sama mangsudnya postingan inih?
o iya…gambarnyah ituh…
February 6, 2008 at 3:38 pm
wew…saya sih belum siap patah hati…
February 6, 2008 at 4:41 pm
Cieee…
Mbak ina udah ada rupanya
*salah fokus*
February 6, 2008 at 5:27 pm
saya ingin putus nich.. hayuukk siapa yang mau putusin saya
February 6, 2008 at 9:02 pm
Tapi cinta tak harus memiliki, karena cinta adalah sikap hati kita
February 6, 2008 at 10:20 pm
*jedoks*
February 6, 2008 at 11:39 pm
putus cinta ?..jalan jalan, makan makan, …
putus asa ? cari pacar lagi…
February 7, 2008 at 12:40 am
putus cinta…waduh…cari lagiiiiiiii
February 7, 2008 at 4:55 am
lewat mana anak yang mutusin itu?
*ambil parang*
February 7, 2008 at 9:13 am
Selamat putus cinta deh na.
btw, feed blogmu sepertinya rusak na, soale google reader ku ndak bisa dapet nih.